trisite

Oh…Galuh Pesonamu Membawa Hati

Posted by: tri aja gin on: May 20, 2008

Cempaka, ……ehm….

Apa menariknya, pikir ku

Ku paut jauh memori lama

Hening,… riuh suara gemercik air sungai

Jernih, terlihat haruan hilir mudik menari

Ibu-ibu asik mencuci baju

Buah hati bermain air tak jemu

Pagi, udara sejuk menyapa

Terik panas mentari sapa desa

Di atas jembatan berbondong pendulang berangkat kerja

Berbekal asa mendapat si galuh

Riang, ceria penuh harap di dada

Oh….galuh tak lelah hati mencarimu

Bersimbah lumpur dan pasir

Ikhlas ku jalani walau ilalang menghadang

Dasar rezeki tak kemana

Trisakti mengguncang dunia

Ah….itukan 43 tahun lalu

Sekarang tak kan kau temukan lagi

Jernihnya sungai ….

Ibu-ibu mencuci ….

Anak-anak bermain ….

Haruan menari …..

Oh…..galuh kau benamkan kami

Derunya mesin penyedot menghias pagi

Kepulan asap pengganti embun

Lubang besar menganga di perut bumi

Terkuras habis eksotiknya bunda pertiwi

Betapa jahatnya kita kepada negeri

Mencari makan dengan keserakahan hati

Tak tersisa bagi cucumu nanti

Hanya cerita tampa bukti

Berbekal sedih bala menjadi

Sungai harapan kering menepi

Duh…Cempaka tetap dihati

Suram wajah depanmu menanti

Mari berbaik benahi negeri

Demi kehidupan lebih baik untuk cucumu nanti

Oh….galuh pesonamu membawa hati

Entah apa disebutnya, kumpulan kalimat diatas ku tulis 15 Mei 2008. Kata teman yang ahli bahasa, kumpulan kalimat tersebut bukanlah puisi, karena tidak memenuhi syarat-syarat sebuah puisi yang bagus. Tapi sudahlah,… ku tidak mau berdebat dengan hal itu. Yang jelas ketika ku minta temanku untuk membuatkan puisi yang bagus ia malah menyodorkan puisinya Taufiq Ismail. Buatlah yang seperti ini, katanya. Weleh…weleh…weleh.

Puisi diatas terinspirasi oleh sosok Lihan, pengusaha muda asal Cindai Alus, Kab. Banjar yang menjadi “terkenal” setelah membeli Intan Putri Malu 3 miliar. Penemuan intan Putri Malu tersebut seakan menegaskan bahwa Martapura Kota Intan. Namun sayang, sejarah seakan berulang. Tahun 1965 ketika intan Trisakti ditemukan dan menjadi kebanggaan, tidak lantas membuat kita sadar untuk memilikinya dan menjadikannya sebagai aset daerah ataupun nasional yang harus dilindungi. Kini kembali ke perut bumi, intan Trisakti tidak terdengar lagi. Akankah nasib Putri Malu bakal seperti itu juga. Semoga tidak demikian. Galuh oh…Galuh pesonamu membawa hati

Trisakti Melebur Diri

Sebelum tahun 1965, Cempaka yang merupakan wilayah dalam Kabupaten Banjar tidak berbeda jauh dengan daerah lainnya. Tidak ada yang istimewa dari Cempaka waktu itu, mayoritas penduduknya bertani, ada juga berdagang, berkebun dan mendulang. Namun Cempaka mendadak berubah ketika siang itu Matsam dkk pada tanggal 26 Agustus 1965 menemukan Si Galuh (Intan) dengan berat 166,75 karat.

Tak ayal penemuan intan yang konon terbesar di dunia tahun itu mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat, tidak saja dari Cempaka ataupun Kabupaten Banjar tetapi juga secara nasional dan dunia. Bahkan berdasarkan hasil penelitian kandungan mineral ternyata kualitasnya sangat baik. Penemuan itu sontak memberi efek domino bagi Cempaka, maka berdatanganlah para pendulang dari luar daerah Cempaka untuk turut mengadu nasib mencari si galuh nan mempesona. Cempaka pun ramai menjadi buah bibir dan seakan tidak ada habisnya, si galuh memang menjadi magnet yang luar luar biasa bagi siapa saja.

Tidak hanya menjanjikan materi bagi penemunya, si galuh juga memberikan harapan besar untuk kenaikan status sosial, wibawa, dan gengsi bagi masyarakatnya. Dan itulah yang dialami Matsam, dkk. Sebagai bentuk penghargaan, oleh pemerintah saat itu mereka diberangkatkan haji lengkap dengan akomodasinya. Setibanya pulang ke Cempaka mereka disambut meriah sepanjang jalan bahkan diarak keliling kampung. Sebagai imbalannya, si galuh dibawa ke Jakarta katanya untuk menjadi milik negara dan sebagai penggantinya Matsam, dkk dijanjikan mendapat semacam jaminan sosial dari pemerintah saat itu. Dan sampai sekarang keberadaan intan Tri Sakti tidak diketahui rimbanya.

Namun seiring waktu, jaminan sosial yang dijanjikan tidak pernah ditepati sehingga Matsam, dkk pun harus rela kembali lagi mendulang karena dapur mereka harus terus mengepul. Penyebab utamanya adalah rendahnya pendidikan dan ketidak berdayaan masyarakat kecil untuk menuntut haknya membuat mereka menjadi termarjinalkan. Pun demikian tidak membuat masyarakat berkaca dari pengalaman tersebut, kemilaunya intan membuat mereka lebih mementingkan si galuh ketimbang pendidikan. Suatu orientasi nilai budaya yang hanya melihat saat ini.

Seakan melihat potensi yang tersembunyi, pemerintah daerah kemudian menjadikan pendulangan intan Cempaka sebagai salah satu objek wisata andalan bagi Kalsel. Hal ini semakin membuat ramai Cempaka, orang tidak saja datang untuk mengadu nasib tetapi untuk melihat bagaimana cara mendulang intan sekaligus membeli intan ataupun cinderamata. Menariknya oleh Gubernur Kalsel, Gt. Hasan Aman dibuat monumen intan Tri Sakti di Cempaka untuk mengenang penemuan intan tersebut. Monumen yang diresmikan tanggal 11 November 1997 itu seakan menjadi saksi bisu bagaimana rakusnya manusia mempertahankan hidupnya.

Waktu terus berlalu, kehidupan masyarakat Cempaka terus berlangsung begitu juga pendulangan intan terus dilakukan. Sudah tidak terhitung ribuan bahkan mungkin jutaan butiran intan digali dari perut bumi Cempaka yang eksotik. Tidak terhitung juga korban cidera sampai meninggal dunia akibat mendulang, namun kehidupan tetap kehidupan. Ia terus berlangsung walaupun manusianya terus berganti.

Kini kearifan budaya mendulang sudah tidak ada lagi, diganti dengan deru mesin sedot yang mengaum sangar menguras isi perut bumi Cempaka. Lubang-lubang besar sisa penggalian ditinggalkan begitu saja menganga. Suasana asri dengan hamparan sawah, sungai yang jernih, dan kicauan burung sudah tidak ada lagi. Tinggallah cerita tentang keindahan alam, kesejukan udara, dan para ibu dengan anaknya yang mencuci pakaian di sungai. Inilah ending cerita tentang intan Tri Sakti.

Putri Malu Undercover

Jika babak akhir dari intan Tri Sakti begitu menyesakkan, maka babak baru intan Putri Malu baru dimulai. Sejak ditemukan 1 Januari 2008 lalu, Intan Putri Malu kini berada di tangan pemiliknya, Lihan. Pria yang berdomisili di Cindai Alus ini berhasil memboyong Putri Malu ke rumahnya dengan harga Rp. 3 miliar. Harga yang tentunya besar bagi Israniansyah, dkk sebagai penemu Putri Malu. Namun tidak bagi Lihan.

Ditaksir mempunyai ukuran sebesar 200 karat menjadikan Putri Malu menjadi intan terbesar yang ditemukan di daerah ini. Tidak berbeda dengan saudaranya, intan Trisakti kini Putri Malu mempunyai magnet yang luar biasa. Desa Antaraku, Kec. Pengaron yang menjadi tempat penemuan ramai dibicarakan. Bahkan kemujuran para pendulang sepertinya akan terus berlanjut karena dalam pengelihatan “orang pintar” masih banyak “sepupu” Putri Malu yang masih berada disana. Tidak heran kini banyak pendatang yang juga mencoba mengadu nasib disana.

Disadari para pendulang bahwa hasil intan termasuk “uang panas” sehingga tidak bertahan lama. Paling banter 3 bulan mereka bertahan dengan kenyamanan yang ada, setelah itu back to erth. Bagaimanapun show must go on. Itu jika mujur, tapi jika tidak maka mereka akan berkutat dalam labirin, laksana laksa bakuah.

Karenannya, mereka berharap ketika Putri Malu ditemukan dan banyak orang luar yang datang termasuk pembeli dan pejabat, mereka menyampaikan keinginan pemerintah daerah agar memperhatikan desa mereka. Terutama kondisi jalan dan fasilitas umum lainnya yang masih jauh kurang baik. Suatu keinginan yang cukup beralasan mengingat sebelum ditemukannya Putri Malu nama desa Antaraku tidak pernah terdengar. Kini moment menyuarakan aspirasi sangatlah tepat, tinggal kita tunggu action Pemkab Banjar.

Yang menarik adalah sosok Lihan. Patut diacungi jempol bahwa keberanian Lihan membeli 3 milliar adalah rekor tersendiri dalam hal pembelian intan di banua ini. Bayangkan selama ini intan yang ada dijual dengan harga yang jauh dibawah harga standar, apalagi harga dunia, jauh…jauh…jack.

Konon perusahaan “eksploitasi” sebesar Galuh Cempaka saja tidak pernah jujur dalam mengumumkan hasilnya. Dan kata empunya mereka merugi, …lucunya sampai kini perusahaan tersebut masih kokoh berdiri. Logikanya, jika merugi kok masih beroperasi, ….he…he…

Keberanian Liham membeli Putri Malu sebesar 3 milliar adalah harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang ditawarkan para pembelantik intan yang hanya berani menawar 100 juta rupiah. Tidak dapat dibayangkan jika terjual hanya dihargai 100 juta, berapa keuntungan yang didapatkan pembelantik intan…? Kini saja Putri Malu sudah ditawar 40 miliar, wow …. pantastis.

Labirin kosong Pendulang

Walaupun dihargai sangat tinggi, namun tidak mengurangi kecemasan penulis akan masa depan Putri Malu. Penulis menyayangkan calon “mempelai prianya” adalah orang asing dari negeri seberang samudera yang tidak diketahui bebet, bobot, dan bibitnya.

Seakan mengulang cerita lama tentang akhir Intan Trisakti yang “menghilang” , akankan nasib Putri Malu juga demikian. Jika boleh berandai, maka baiknya pembeli berasal dari negeri ini juga sehingga masih dapat diketahui pasti. Tapi rasanya masih jauh api dari panggang, karena Lihan mematok harga 50 miliar untuk sang putri. Nasib sang putri sangat tergantung dari anggukan ataukah gelengan Lihan. Yach…bagaimana lagi. Sejarah akan mencatat, Putri Malu sebagai intan terbesar yang ditemukan di Indonesia abad ini kini menjadi milik negara lain. Semoga tidak.

Kemilau Putri Malu tidaklah secerah masa depan pendulang. Ketidaktahuan ataukah keluguan pendulang yang cenderung menjual murah intan membuat mereka menjadi objek empuk bagi para pembelantik. Studi kasus selama menjadi pendulang setidaknya memberikan pengalaman bagi penulis.

Menjadi pendulang adalah pekerjaan yang tidak memerlukan ijazah tinggi. Tidak ada tes, tidak perlu mengisi biodata, dan tidak perlu takut ditolak. Karena syarat utamanya adalah sehat jasmani rohani. Pendidikan bukanlah hal utama, sehingga banyak dari mereka yang hanya lulusan SD bahkan tidak menyelesaikan SD.

Dengan mendulang mereka bisa menghidupi keluarga, jika mujur mendapatkan intan maka bisa menunaikan ibadah haji. Maka naiklah status sosialnya dimasyarakat. Namun tampa disadari, pendidikan yang dilupakan justru menjadi bumerang dalam pengelolaan hasil penjualan intan. Tidak heran jika ada pendulang yang paginya miskin, maka sorenya menjadi kaya. Dan besoknya bisa miskin lagi karena uangnya habis untuk bayar hutang. Catat, ini hanya terjadi di Indonesia, he…he…

Labirin bagi pendulang dimulai saat mereka resmi menjadi anggota kelompoknya. Dimulai jam 08.00 pagi berangkat bersama dengan teman-teman menuju pendulangan. Sesampainya disana tidak langsung berkerja tetapi mewarung dulu. Untuk urusan yang satu ini free alias gratis karena yang bayar adalah tetua luang (ketua kelompok pendulang), oleh acil warung dicatat dalam buku khusus.

Begitu juga saat istirahat siang dilakukan secara bergantian. Kembali ke warung dan makan-minum sepuasnya, tidak lupa rokok dan wadainya. Jika cepat selesai maka sore hari bisa pulang, tetapi jika tidak bisa sampai malam. Artinya akan banyak lagi biaya yang dikeluarkan oleh tetua luang.

Pun jika tidak mendapatkan intan hari itu maka para pendulang tidak perlu khawatir kelaparan karena tetua luang sangat baik hati mau memberikan pinjaman bagi kebutuhan keluarga. Begitu juga makan-minum selama mendulang tidak perlu dirisaukan karena tetap mendapatkan jatah. Pendulang hanya mengenal libur pada Jumat, selebihnya adalah kerja…kerja… dan kerja. Kecuali idul fitri dan idul adha. Atau untuk insideltil seperti mesin rusak, longsor ataupun banjir dan kekeringan maka boleh libur.

Klimaksnya ketika mendapat intan maka pendulang tidak serta merta langsung mendapat bagian karena harus dipotong sana-sini sebagai konsekunsi. Jika diumpamakan Putri Malu jadi dijual dengan harga 100 juta maka para pendulang kemungkinan besar hanya mendapatkan bagian bersih sebesar 6 juta saja. Hal ini diketahui dari sistem pembagian yang tidak tertulis yang menempatkan pendulang ada posisi daya tawar rendah. Harga jual dibagi 2 dengan rincian ; 50 juta untuk pemilik modal dan 50 jutanya dibagi jumlah pendulang. Pembagian untuk pendulangpun tidak langusng dibagi karena harus dikurangi, biaya makan-minum. Sisa bersih kira-kira hanya 6 juta saja. Bisa dihitung sendiri, dengan 6 juta rupiah di zaman yang serba mahal ini dapat bertahan berapa lama….? paling lama satu minggu, mereka bisa menikmati hasilnya.

Hal yang juga menarik disimak adalah kurangnya informasi mengenai pemasaran intan. Disadari atau tidak, rutinitas mendulang intan telah membuat mereka melupakan pendidikan. Padahal pendidikan sarana ampuh untuk mendapatkan informasi. Tidak berhenti disana, ternyata rutinitas “dibuat sengaja” untuk membatasi akses pendulang untuk mendapatkan informasi perkembangan harga. Mereka tidak dapat dengan leluasa menjual intan ke pada orang luar. Paling banter, orang luar yang datang ke sana, itupun tidak banyak membantu menaikan harga intan.

Tetapi dengan kehadiran Lihan setidaknya membuka mata pendulang bahwa selama ini mereka “dipermainkan” oleh para pembelantik intan yang menjadikan mereka sebagai objek memperkaya diri dan kelompok. Tidak dapat disalahkan sepenuhnya juga karena pada dasarnya semua itu (pendulang, pembelantik dan pembeli) adalah kesatuan sistem yang saling terkait. Tidak mudah memang untuk memberikan penyadaran bagi para pendulang, karena mereka tidak mempunyai posisi tawar kuat. Apalagi sistem ini sudah mengakar kuat Diperlukan waktu lama untuk mengubahnya. Dengan semua yang telah ada, saya berharap dapat memberikan kesadaran bagi mereka sebelum semua lahan habis didulangi, namun kapan kesadaran itu muncul. Wallahuallam.

1 Response to "Oh…Galuh Pesonamu Membawa Hati"

wah…kada dapat bos mancari.
sudah batakun lwn org sekiotar,..jar kadada nang kenalnya…

Leave a Reply


  • tri aja gin: ok bos... ane mau gabung neh...moga banua kita lebih baik dan semakin maju
  • tri aja gin: hehehe.....lg kena anginnya aja
  • tri aja gin: wah...kada dapat bos mancari. sudah batakun lwn org sekiotar,..jar kadada nang kenalnya...

Categories