Posted by: tri aja gin on: October 9, 2008
Dimulai dari mimpi tentang kost dulu di Wirahusada II, akhirnya tertulis cerita ini. Ya, wirahusada II setidaknya selama 4 tahun mengisi ruang memori hidup ini. Bagaimana pun juga, kesan dan pesan yang ditimbulkannya membuat saya memahami arti hidup dan kehidupan. Sebuah kebenaran yang tidak dipungkiri bahwa kebersamaan dengan teman2 senasib sepeguringan menempa diri menjadi pribadi seperti ini dan lebih baik lagi…insyaallah.
Tahun 2003 setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pendidikan, wirahusada II ku tinggalkan dengan perasaan senang namun juga sedih. Ya, sudah 5 tahun meninggalkan wirahusada II , tetapi alangkah terkejutnya ketika mendapat kabar bahwa kini kost yang sudah banyak melahirkan para cendikiawan muda tersebut harus berakhir dengan tragis ditutup oleh masyarakat. Sebuah ending yang tidak mengenakkan. Sebuah tanda tanya besar menyelimuti tanya besar dalam diri, mengapa demikian….???
Now begin
Dimulai medio 1999 ketika menyelesaikan study di SMA 1 Martapura. Keinginan untuk kuliah menyebabkan memilih FKIP jurusan sejarah. Jauhnya jarak kampus dengan tempat tinggal mengharuskan saya untuk kost.
Tidak memakan waktu lama, perburuan mencari kost pun dimulai. Pertimbangan utama adalah kost yang dekat dengan kampus. Setelah dor to dor kesana kemari maka pilihan jatuh ke kost Wirahusada II yang berada di Jl. Pangeran Gg. Kelurahan no. 3 Rt. 7 Kelurahan Pengeran Kec. Banjarmasin Utara. Dari kost ini jarak ke kampus dapat ditempuh dengan jalan kaki hanya sekitar 5 menit. Pun jika naik motor lebih cepat lagi.
Masih lekat di ingatan, biaya kost waktu pertama adalah Rp. 45.000 harga yang termasuk murah ditahun itu. Dengan luas perkamarnya 3 x 4 untuk satu orang cukuplah bagiku untuk memulai cerita baru. Layaknya mahasiswa baru, semangat yang membara sampai ke ubun-ubun membuat semuanya berjalan dengan mudah. Sosialisasi dengan teman2 satu kost pun berjalan lancar.
Wirahusada II mempunyai 2 lantai. Tiap2 lantai memiliki 5 kamar disisi kanan-kiri, sehingga jumlah seluruhnya 20 kamar. Kebetulan saya mendapat kamar di lantai 2. Mengingat kembali nama teman2 diawal itu, ada Budi “iir” Irawan dari Banjarbaru. Ada juga Daswoto, Yudi dari Palangkaraya, Abdul Hamid dari Kotabaru, Yani juga dari Kotabaru, M. Noor juga dari Kotabaru. Riduansyah dari Pulau 9, Kotabaru, M. Juhri juga dari Kotabaru, Arief dan kakaknya dari Palangkaraya, Idank dari Purukcahu. Sugian “mas ami” Noor alm, I-King dari Palangkaraya, Sugiono “gundul” dari Palangkaraya, Abdul Kholik “Alex” dari Awayan, Mas Agung dari Tanah Laut, Said dari Sampit, “Mr.Bean” dari Kandangan, Toni dari Kandangan, dan Ali dari Kotabaru. Yudi kapuas.
Generasi kedua ada Razikin Kamar, Nanang Firdaus, ada juga Makmun, Hengki, Ary, Putra, mas Agus, dan yang lainnya. Sorry buat yang lain jika belum tertulis, yang jelas jika ketemu orangnya baru inget lagi,… hehehe
Banyak hal yang membuat Wirahusada II mempunyai arti penting, mulai dari geliat semangat anak mahasiswa, sembari diiringi kegiatan organisasi, sosial, olahraga, sampai masalah asmara dan bla…bla..bla. pokoknya asik aja selama disana.
Manabat Banyu Landas
Siklus yang tak terlewatkan adalah musim hujan dan kemarau. Jika muism hujan maka dipastikan sekitar kost akan banjir. Akibatnya jika ke kampus jalan kaki harus rela tenteng sepatu dan nyeker sampai kampus. Enaknya, kalau hujan lebat plus banjir maka ada alasan tuk ngk ke kampus,… hehehe
Pun jika kemarau, maka dipastikan panas terik menyebabkan kekeringan. Air sungai Pangeran yang menjadi andalan harus kering. Air PDAm yang diharapkan pun kadang tidak dapat dinikmati secara lancar. Serunya jika kemarau maka kamipun mandi di sei Pangeran rombongan. Besarnya desakan arus laut dari ambang barito menyebabkan air sei pangeran asin. Jika pasangnya pagi maka kamipun harus mandi pagi2, alhasil selesai subuh sudah rajin. Jika tidak maka ke kampus hanya bermodalkan cuci muka,… hahaha
Jika pasangnya sore maka, ramailah sei pengeran dengan hiruk pikuk aktivitas masyarakatnya. air PdAm Bandarmasih yang diharapkan sering ngk ngalir. Inilah yang menimbulkan kegelisahan warga, bayar iya, ngalir ngk “byer pet”. Ironi memang, Banjarmasin yang dikenal dengan seribu sungai justru mengalami kesulitan dengan air bersihnya. Bahkan sesambilan survey kecil2an kami menemukan banyak rumah tangga yang menggunakan mesin penyedot air untuk menambah daya tarik air PdAm mengalir ke rumah2 mereka. Kalo udah gini, boleh ngk ya….?
Banjir dan hujan menjadi rutinitas yang mengasikkan di Bjm tetapi justru sulit mencari jalan keluarnya. Maklum, kota tua ini dibangun dengan pondasi kebudayaan sungainya yang mengakar kuat. Kebudayaan sungai yang beralir ke darat menyebabkan pergeseran nilai2 sosial budaya yang berimplikasi pada sulitnya penataan masyarakatnya. lazimnya prototife kebudayana sungai yang bebas seperti air mengalir, maka peraturan yang dibuat untuk kebaikan masyarakat itu sendiri justru masih dianggap sebagai penghalang bagi aktivitas warganya. Alhasil bisa ditebak, menata Bjm sungguh sebuah persoalan sulit. Bak manabat bangyu landas.
Asix2 aja
Bagi kami, banyak hal yang bisa diisi diwaktu senggang. Mulai dari nonton bareng, main bola, nongkrong di gorengan, bagitaran, bamasakan, sampai pada bagadangan…. Hehehe semua dijalani asik aja. Shalat berjamaah dilanggar pun menjadi menu yang sering kami santap bersama.
Namanya juga anak kost, masalah makan menjadi persoalan yang penting. Dan makan mie adalah menu utama. Pun jika ada teman yg ultah maka makan bersama adalah tuntutan utama. Makanya jika Ramadhan tiba adalah kerinduan sangat. Selain penuh hidayah dan amaliah. Bagi anak kost, ramadhan juga bulan penghematan. Dan menariknya, saat sahur pernah satu kost tertidur dan ngk sempat makan sahur. Ada yang puasa tetapi banyak juga yang izin. Begitulah, kelakuan anak kost.
Hampir 3 tahun, semua berjalan dengan baik. Namun memasuki semester kedua sutiasi sudah mulai kurang enak. Teman2 yang senior yg baik2 udah pada selesai. Masuklah generasi ke tiga yang mulai ngk jelas asal usulnya. Ada semacam kerinduan dengan teman2 yang sudah selesai, maklum mereka banyak memberikan masukan. Tetapi kini kondisi ulai berubah, pun pengelola kost juga ngk mau ambil pusing. Yang penting bayar, begitu kira2.
Akibatnya, untuk pertama kali saya melihat daun ganja di kost ini. Ternyata ada yg menanam, duh… jika sebelumnya tidak ada yg mabuk, ngobat ataupun lainnya kini gejalan itu udah nampak. Ruang Tv tempat kumpulpun kini disekat menjadi kamar, semakin menyempitkan ruang keluarga. Bahkan sudah ada yang berani membawa teman cw nya nginap.
Menjelang akhir kuliah, ku lebih banyak tidak di kost. Ku lebih memilih PP dari BJB-BJM. Barang2 sedikit demi sedikit ku kemasi, dan akhirnya keluar juga. Hubungan dengan teman2 masih berjalan. Masih sering datang untuk meliat2 di sana.
Sampai terakhir awal 2007 kesana tidak satupun yag ku kenal lagi. Dan kegelisahan benar. Kabarnya kost di grebek karena disinyalir menjadi peredaran narkoba. Oleh warga juga beberapa kali diperingati untuk tidak membuat keributan dan membawa teman wanita. Tetapi semuanya angin lalu. Puncaknya ketika ada penghuni yang ditangkap dengan tuduhan pengedar. Dan digrebek warga karena kedapatan menginapkan teman wanita. Sampai akhirnya ditutup paksa oleh warga.
Kini kost tersebut tidak berpenghuni. Tak ada lagi cerita manis di dalamnya, berakhir dengan tragis. Duh…inilah cerita akhir wirahusada II.
Buat teman2 yang baca tulisan ini. Salam hangat buat kalian. Tak ada kesan dan kesan tampa kebersamaan. Wirahusada II adalah bagian hidup yang telah mengisi halaman kehidupan kita masing2. Jangan dilupakan.