trisite

baju terbalik

ini cerita waktu kecil,…….

kalau kami mau main ke hutan atau tempat jauh biasanya abah-mama selalu ngasih pesan

“kalau tersesat jangan lupa baju dibalik biar dapat jalan pulangnya”, begitu ucap ortu.

tidak hanya akau, ternyata banyak teman seusia juga diberi saran yang sama dengan ku.

makanya kalau kami masuk2 hutan tuk cari buah atau cari sumpitan biasanya teman2 selalu ngingatin tuk balik baju biar ngk tersesat.

jika di pikir apa hubungnnya balik baju dengan tersesat…?

ternyata benar juga, setidaknya sudah dibuktikan.

ceritanya begini….:

kebetulan di kampung lagi rame main sumpitan, sedangkan di tempat kami sumpitan yang panjang dan bagus tidak ada. kamipun sepakat untuk mencari sumpitan ke gunung kaya, sekitar 10 km dari kampung naik sepeda.

pagi kami berangkat 7 orang, dengan membawa parang dan lading. sudah sekitar jam 12 siang kami belum ketemu tempat tujuan, seorang teman yang menaku tahu jalan ternyata lupa. kamipun harus bertanya kepada seorang petani tua yang kebetulan berpapasan. setelah memberitahukan tempat tersebut petani tadi juga berpesan, “jika tersesat jangan lupa baju dibalik”.

dengan sigap kamipun menuju tempat tersebut. ternyata benar disana banyak paring yang bisa dibuat sumpitan. bagus dan panjang-panjang. tidak sabar kamipun segera mengambil paring tersebut, ternyata disekitar paring tersebut juga banyak buah palas yang dijadikan bahan untuk peluru sumpitan.

dengan riang kamipun pulang membawa hasil buruan. namun tepat dipersimpangan jalan kami bertemu dengan petani tua tadi kami tidak ingat lagi jalan yang mana menuju pulang. setelah melalui perdebatan kami memutuskan memilih jalan ke arah kanan, karena kanan lebih baik dari kiri. kami menyusuri jalan setapak, semula biasa saja tetapi memasuki padang kami mulai cemas karena kami justru serasa semakin jauh masuk hutan.  kamipun panik dan balik arah ke jalan semula. anehnya, di jalan kami menemukan lagi persimpangan. padahal tadi waktu kami lewat tidak ada…???

hari sudah siang, jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.30 wita. kami terdiam dipersimpangan jalan tersebut. kemudian teringat pesan abah-mama , kamipun semua membalik baju dan kemudian memilih lurus saja tidak berbelok.

ternyata jalan tersebut benar sampai ke muka kampung kami. rasa senang bercampur letih mengharu diantara kami. sebelum pulang kerumah kami mandi balumba di sungai pumpung, menjelang magrib kami baru tiba di rumah.

keesokan paginya, kami basarangan bermain sumpitan dnegan kampung sebelah. ramai, seru dan mengasikkan. teman2 yang melihat sumpitan kami bertanya dimana mencarinya. kamipun memberitahukan kepada yang lain. mereka kemudian mengajak mencari esok hari. kebetulan karena sekolah saya tidak bisa ikut, katanya Hani dan Udin yang ikut karena sudah tahu tempatnya.

malam hari bertemu mereka, ternyata dari kisah Hani dan Udin mereka bersama teman yang lain tidak menemukan lagi tempat sumpitan itu. bahkan simpangan jalan yang kemarin tidak mereka temui. mereka tersesat sampai ke dukuh. mereka baru bisa pulang setelah membalik baju.

hm…………apa hubungnnya balik baju dengan jalan…?

tapi itulah kenyataan. secara rasional tidak ada tapi penulis merasakan bahwa dengan ingat pesan orang tua untuk membalik baju ternyata ada sugesti yang luar biasa sehingga memunculkan keberanian dan kepercayaan bahwa akan menemukan jalan pulang. walaupun , “mungkin” jalan tersebut memang sudah ada hanya kecemasan dan sikon yang membuat berpikir tidak jernih lagi.

pertanyaannya, kalau tersesat di kota besar apakah kita harus balik baju….?

Leave a Reply


  • tri aja gin: ok bos... ane mau gabung neh...moga banua kita lebih baik dan semakin maju
  • tri aja gin: hehehe.....lg kena anginnya aja
  • tri aja gin: wah...kada dapat bos mancari. sudah batakun lwn org sekiotar,..jar kadada nang kenalnya...

Categories