trisite

kotabaru under cover jilid 1

wah…baru beberapa hari yang lalu nulis di blog ini tentang kotabaru.

eeee…tahunya minggu tadi (1 Juni 2008) tadi go to Kotabaru lagi. maunya seh naik pesawat tapi ngk kebagian tiket, abis dicarter buat tamu bupati, maklum 1 juni adalah HUT kotabaru.

minggu pagi perjalanan panjang dimulai, naik kijang “tak ada 2 na” menelusuri sepanjang jalan Cokrokusumo mengarah ke Plaihari. bersama dengan tim survey “P Dhoni, P Syamsu, P Taufik, P Rahmad, B Milla, B Wahidah” perjalanan sepertinya berjalan lancar.

perlahan dan pasti kami meninggalkan B.Baru dan mulai memasuki Plaiharai. perjalanan relatif lancar, jalan2 bagus dgn udara segarnya. memasuki Tanah Bumbu, perjalan sepertinya mulai bergoyang, banyak lubang di sana sini yang memaksa kami harus ekstra hati2. memasuki jorong dan melewati sungai danau perjalanan bertambah sulit, tidak ada pilihan baik untuk melewati lubang. jam tangan sudah menunjuk pukul 14.00 tetapi driver tidak juga berhenti, sedangkan “mahluk” di dalam perut ini juga sibuk berdiskusi makan apa siang ini. tiba di Asam-asam banjir menghalang, dengan berani kijang berenang santai melewati hadangan air.

akhirnya mampir juga di warung “antah berantah”. sama dgn jalannya, ngk ada pilhan lain “sikat aja brow”.  seakan mendapat tenaga baru, perjalanan ini mulai dilanjutkan. memasuki Pagatan, jalan semakin rusak. untung masih ada untung, kijang lincah menari lembut diatas “aspal” yang tidak lagi beraspal.  sampai di pelabuhan feri, jam tangan sudah menunjukkan pukul 18.00. kmai ketinggalan feri, dan harus bersabar menunggu satu jam kemudian.

tiba di Tanjung Serdang, perjalanan memasuki Kotabaru dengan perlahan, tidak saja karena malam tetapi juga jalannya rusak dan listrik padam. 1 1/2 jam kemudian kami memasuki Kotabaru dengan babak belur perdebatan kecil terjadi antara makan atau mencari hotel. pilihan unutk mencrai hotel diamini semua tim, kamipun bergerilya dari hotel termahal “Grand Surya” sampai penginapan lesehan. tak ada kamar kosong, semua penuh di pake tamu bupati. jam 10 malam kami baru dapat penginapan, itu pun hanya satu kamar unutk ibu2 dan lelaki harus rela tidur di mushalla “nasib”. secara begitu juga saat cari makan, jam 10 malam perburuan kuliner tidak membuahkan hasil. baru satu jam kemudian kami bisa makan dengan menu tidak ada pilihan lain, “sikat lagi brow”.

begitulah, hari pertama di kotabarau. sebuah pelajaran berharga ” mengharap burung terbang, punai ditangan dilepas”.

Leave a Reply


  • tri aja gin: ok bos... ane mau gabung neh...moga banua kita lebih baik dan semakin maju
  • tri aja gin: hehehe.....lg kena anginnya aja
  • tri aja gin: wah...kada dapat bos mancari. sudah batakun lwn org sekiotar,..jar kadada nang kenalnya...

Categories