“Pa, doakan ulun lulus UN lah”, kata seorang siswa kepada ku. “Amin, mudahan lulus”, jawabku.
kalimat tersebut kemudian diikuti oleh puluhan siswa yang lain. maklum hari itu (sabtu, 19 April 2008) adalah hari terkahir persiapan UN, para siswa pun harus bertanding esok Selasa nanti untuk menentukan mana yang lulus dan tidak.
ehm…..ku hela napasku panjang. ada rasa khawatir juga didada ini melihat muka-muka muram siswa ku. tak ada yang menjamin bahwa mereka lulus, selain mereka sendiri. ah….lagi-lagi keukerutkan keningku tanda masih ada mengganjal dihati. ku putar memoriku 10 tahun lalu ketika mengikuti Ebtanas. bagiku Ebtanas adalah hal mudah karena memang jauh hari sudah ku mantapkan hati melewatinya, dan benar Ebtanas lolos ku lewati.
kini, ketika menjadi guru zaman sudah berubah. Ebtanas berganti UN, dan perkembangan iptek sudah jauh berbeda dari 10 taghun lalu. suasana kondusif belajar tidak lagi tercipta kerana banyaknya godaan, dari teman, TV, Radio, HP, kuliner, dan sebagainya. siswapun hanya mengandalkan pembelajaran disekolah. bayangkan, dalam 24 jam sehari siswa hanya bergantung pada proses KBM selama 8 jam disekolah, itu pun jika jamnya penuh. bayangkan lagi jika gurunya tidak masuk ataupun siswanya bolos plus ada rapat dinas dan kegiatan sekolah yang memaksa tidak ada KBM, maka bisa dipastikan 8 jam tadi tidak maksimal. tidak usah dihitung waktu anak di rumah, karena juga dapat dipastikan mereka tidak penuh belajarnya.
kini dihadapkan dengan UN dengan soal yang sama se Indonesia dari Aceh sampai Papua. maka dipastikan lagi akan banyak siswa yang tidak lulus. Ironinya data tahun-ketahun menunjukkan jumlah siswa yang lulus UN semakin banyak. wah…ada apa ini. ketika pemerintah bersikukuh melaksanakan UN maka dilapangan guru dan disdik pun bersimbah peluh untuk meluluskan siswanya dengan apapun caranya.
inilah kearifan budaya timur kita ; pemerintah ok, rakyatnya pun manut dengan caranya masing-masing.
April 22, 2008 at 1:00 am
kelulusan siswa/siswi hanya di tentukan oleh UN yang hanya sebentar saja sungguh ironis sekali .